Kategori Produk
TOP Produk
Open Source Ungkap 'DNA' Batik
Siapa
menyangka dari hasil pembicaraan santai sekelompok anak muda di Bandung seputar
batik akhirnya menghasilkan inovasi teknologi yang berpotensi memajukan
industri batik. Dibantu para peneliti di BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan
Teknologi), tim yang menyebut dirinya Pixel People Project berhasil
mengembangkan software untuk mengungkap kekhasan atau "DNA" batik
untuk mengidentifikasi motif asli Indonesia dan membuat motif variannya dengan
cepat.
"Setelah dipelajari batik sebetulnya suatu bentuk perulangan yang disebut
fraktal. Dalam matematika itu berkaitan dengan teori chaos," ujar Idwan
Suhardi Deputi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek Kementrian Riset
dan Teknologi di Jakarta, Rabu (11/6). Hal tersebut disimpulkan setelah tim
BPPT melakukan melakukan analisis terhadap 300 motif batik dari Sumatera, Jawa,
Madura, dan daerah lainnya..
Bahkan dari analisis tersebut dapat diketahui motif dasar atau boleh dibilang
DNA batik. Dari motif dasar diketahui rumus matematikanya sehingga dengan mengubah-ubah
variabel yang mempengaruhi dapat dibuat variasi motif yang sangat banyak.
Dengan teknik tersebut, pembuatan desain baru dapat dilakukan dengan cepat
bahkan setiap saat apalagi telah dikembangkan software yang siap pakai.
Ada dua parameter yang digunakan untuk menyusun ?DNA? Batik Indonesia. Yang pertama adalah besaran yang mengukur struktur bentuk motif. Kita menggunakan dimensi fraktal. Parameter kedua adalah distribusi warna motif. Konfigurasi warna yang ada tersusun atas kombinasi tiga warna dasar. Parameter-parameter ini kemudian disusun menjadi tabel kumpulan meme yang merefleksikan data-data Batik yang diobservasi. Kemudian dihitung jarak antar artefak batik. Jarak ini yang selanjutnya divisualisasikan ke dalam pohon filomemetika Batik Indonesia.
Proses komputasional ini memperlihatkan terjadinya pengelompokan batik berdasarkan wilayah. Sampel desain Batik dari Solo, Yogyakarta, Pekalongan, Cirebon, Garut, Riau hingga Bengkulu cenderung mengelompok berdasarkan daerah asalnya. Setiap daerah memiliki karakteristik yang khas.
Hasil yang diperoleh sangat mengejutkan. Mengapa demikian? Sekarang coba kita bayangkan, kita ambil satu buah desain batik acak dari Pasar Klewer, Solo, yang tidak kita ketahui asalnya. Lalu kita foto dengan kamera digital. Setelah melalui proses perhitungan di komputer maka secara probabilistik dapat diketahui dari daerah mana ia berasal.
"Ini adalah contoh bahwa dengan pendekatan sains sebuah heritage dapat
dikembangkan lebih jauh," ujar Idwan. Apalagi software yang dibangun untuk
menghasilkan desain secara real time berbasis open source sehingga berpotensi
besar dikembangkan terus kemampuannya melalui komunitas. Teori fraktal selama
ini dipakai dalam metode mutakhir untuk mengenali gejala retakan pada isolator
listrik atau pesawat.
Pemanfaatan teori fraktal sangat berguna untuk menandai motif batik asli
Indonesia sehingga tak diakui sebagai produk negara lain. Namun akan lebih
bermanfaat jika penemuan ini lebih menggairahkan industri batik sehingga
menjadi salah satu sumber perekonomian nasional.
Sumber: rumahbatik.com